Reporter: Nur Qolbi | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rasio harga saham terhadap laba alias price to earnings ratio (PER) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini lebih tinggi dibanding indeks saham utama negara lain, terutama di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan data Bloomberg, PER IHSG per perdagangan Rabu (6/10) mencapai 24,77 kali.
Sementara itu, PER indeks saham utama Thailand sebesar 19,97 kali, Vietnam 16,40 kali, dan Malaysia 15,19 kali. Dengan menggunakan data tersebut, dapat dikatakan bahwa harga saham-saham di pasar saham dalam negeri sudah lebih mahal dibandingkan yang lain.
Meskipun begitu, Kepala Riset NH Korindo Sekuritas Anggaraksa Arismunandar menilai, tingkat PER tersebut tidak bisa menjadi satu-satunya patokan untuk menilai murah mahalnya bursa saham suatu negara. Pasalnya, pelaku pasar juga banyak yang memperhitungkan forward PER alias rasio harga saham terhadap laba yang didapat dari proyeksi pertumbuhan harga dan laba para emiten ke depannya.
Baca Juga: Wall Street tumbang di awal perdagangan Rabu (6/10)
Menurut Anggaraksa, dengan memperhitungkan proyeksi perhitungan laba tahun 2022, maka forward PER IHSG berdasarkan konsensus para analis bisa mencapai sekitar 15 kali. "Tingkat tersebut masih ada di area yang cukup konsisten dengan PER IHSG tiga tahun terakhir," kata Anggaraksa kepada Kontan.co.id, Rabu (6/10).
Anggaraksa juga melihat, pasar saham Indonesia akan tetap diminati oleh para investor asing sehingga arus dana dari luar negeri masih akan masuk. Pasalnya, di antara negara lain di kawasan Asia Tenggara, Indonesia unggul dengan sumber daya alam yang melimpah. Pemulihan ekonomi yang terjadi berpotensi mendorong permintaan energi yang pada akhirnya akan mengerek harga jual komoditas, seperti crude palm oil (CPO), batubara, dan minyak bumi.
Di samping itu, kasus Covid-19 di Indonesia juga dinilai sudah sangat terkendali. Pasar saham Indonesia juga akan didorong oleh aksi window dressing yang sudah dimulai lebih awal, yakni sejak akhir September 2021.
Baca Juga: Daya tarik investasi reksadana di tengah pemulihan ekonomi
Perkiraan dana asing yang akan berlanjut masuk juga didukung oleh Amerika Serikat yang sudah memberikan peringatan-peringatan terkait kebijakan tapering off. Dengan begitu, tapering off yang rencananya akan dimulai pada akhir tahun 2021 diprediksi tidak akan menimbulkan gejolak besar seperti kejadian taper tantrum tahun 2013.
"Akan tetapi, mungkin jumlah dana yang masuk tidak di akhir tahun ini bakal lebih terbatas karena sudah banyak sekali masuknya dalam tiga hingga empat bulan ke belakang," ucap Anggaraksa. Mempertimbangkan berbagai sentimen positif tersebut, Anggaraksa memperkirakan, IHSG pada akhir tahun 2021 dapat mencapai level 6.560.
Sementara itu, Head of Investment Research Infovesta Wawan Hendrayana memprediksi, PER IHSG ke depannya akan lebih rendah dari PER saat ini yang masih menggunakan laporan keuangan per Juni 2021. Pasalnya, pelaku pasar berekspektasi pendapatan emiten di kuartal ketiga 2021 akan naik seiring dengan pelonggaran PPKM sehingga berpotensi mengerek laba.
Baca Juga: Menakar dampak dan risiko krisis energi terhadap pasar komoditas
"Investor membeli suatu saham dengan mempertimbangkan forward PER. Saat laporan keuangan emiten per September 2021 nanti dirilis, PER IHSG berpotensi turun ke sekitar level 20 kali atau bahkan belasan kali," ucap Wawan.
Pelaku pasar juga berekspektasi bahwa ekonomi Indonesia akan lebih baik ke depannya dan lebih cepat pulih dibanding negara lain. Hal itu didukung oleh PPKM yang sudah diperlonggar, tingkat vaksinasi yang dinilai sudah sangat baik, hingga keunggulan Indonesia sebagai penghasil komoditas energi yang bakal kebanjiran permintaan seiring dengan pemulihan aktivitas ekonomi.
Oleh sebab itu, Wawan yakin, dana asing masih akan terus masuk ke pasar saham Indonesia. "IHSG pada akhir tahun ini bisa mencapai 6.500-6.600. Sementara tahun 2022 bisa mencapai level 7.000 dengan asumsi pandemi sudah lebih dapat diatasi dan tercapainya herd immunity di Indonesia sehingga terjadi pemulihan ekonomi," kata Wawan.
Baca Juga: IHSG melesat 2,06% hari ini, simak proyeksi analis pada perdagangan Kamis (7/10)
Saham-saham pilihan
Di tengah potensi IHSG yang masih bisa naik lagi meski terbatas, Wawan memiliki sejumlah saham pilihan yang masih mungkin mencatatkan upside lumayan. Menurut dia, saham perbankan big caps, seperti BBCA dan BBRI menarik untuk dilirik.
BBCA dipilih karena memiliki fundamental yang bagus dan termasuk favorit investor asing. Sementara BBRI memiliki permodalan yang kuat setelah melaksanakan rights issue sehingga memudahkan perusahaan ini untuk melakukan ekspansi bisnis di tengah potensi pemulihan ekonomi.
Untuk berjaga-jaga, Wawan juga menyarankan investor untuk mencermati saham-saham menara telekomunikasi karena tergolong defensif. Hal itu terbukti dengan emiten-emiten seperti TOWR dan TBIG yang tetap membukukan kenaikan pendapatan di tengah pandemi Covid-19. Dia juga menyarankan saham-saham barang konsumsi karena memiliki potensi kenaikan pendapatan seiring dengan daya beli masyarakat yang akan tumbuh menyusul pelonggaran PPKM.
Baca Juga: Kenaikan harga komoditas menyokong kenaikan IHSG 2,06% pada Rabu (6/10)
Wawan memasang target harga untuk BBCA di level Rp 37.000 per saham sampai akhir tahun, BBRI Rp 4.500, TOWR Rp 1.400, TBIG Rp 3.400, UNVR Rp 4.600, dan ICBP Rp 9.500 untuk jangka panjang.
Tak jauh berbeda, Anggaraksa juga menyarankan investor untuk memperhatikan saham perbankan blue chip. "Akan tetapi, ruang penguatan untuk saham-saham perbankan sudah cukup terbatas karena telah naik signifikan," kata dia.
Sementara saham-saham yang masih memiliki potensi kenaikan agak lebar adalah saham properti, konstruksi, infrastruktur telekomunikasi, dan barang konsumsi. Sebagai contoh, Anggaraksa memprediksi, dalam jangka panjang, TLKM masih dapat naik lagi dengan target harga Rp 4.400 dan BMRI Rp 7.450 per saham.
Baca Juga: Blue chips jadi rebutan, LQ45 melonjak 2,87%
Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.
Meski PER IHSG lebih tinggi dari negara lain, investor asing masih akan tertarik - Investasi Kontan
Read More
No comments:
Post a Comment