Rechercher dans ce blog

Tuesday, January 4, 2022

Mitra Keluarga (MIKA) Tetap Tampung Pasien Covid-19 Meski Kemenkes Masih Menunggak Klaim RS - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten Rumah Sakit, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) memastikan kinerja layanan kesehatan untuk perawatan pasien Covid-19 tidak terganggu meski tagihan rumah sakit rujukan sebesar Rp22,99 triliun belum dibayarkan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun anggaran 2021.

Kepastian itu disampaikan saat terjadi potensi lonjakan kasus Covid-19 akibat varian Omicron pada awal tahun ini.

Head of Investor Relation Mitra Keluarga Karyasehat Aditya Widjaja mengatakan, perseroan tidak mengalami kendala serius ihwal penagihan pembayaran klaim perawatan pasien konfirmasi positif Covid-19 kepada Kemenkes sepanjang 2021.

“Walaupun memang dispute masih terjadi, lebih dikarenakan proses administrasi dan kelengkapan saja, dan sejauh ini masih terbilang manageable,” kata Aditya melalui pesan WhatsApp, Selasa (4/1/2022).

Dengan demikian, dia memastikan, MIKA bakal tetap memberikan layanan optimal seiring dengan potensi lonjakan kasus konfirmasi positif Covid-19 akibat Varian Omicron pada awal tahun ini.

MIKA juga bakal mengalokasikan 40 persen dari keseluruhan kapasitas perawatan yang ada untuk pasien Covid-19 tahun ini.

“Untuk oksigen, sejak gelombang varian Delta kemarin kami juga sudah menambah tabung-tabung oksigen tambahan di masing-masing rumah sakit untuk antisipasi jika pasokan oksigen dari penyimpanan tidak cukup,” tuturnya.

Seperti diketahui, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan terdapat 468.611 kasus klaim perawatan pasien Covid-19 di rumah sakit yang belum rampung dibayarkan sepanjang 2021.

Adapun, nilai klaim perawatan pasien Covid-19 itu mencapai Rp22,99 triliun yang mayoritas berasal dari rumah sakit swasta dan milik pemerintah daerah.

Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes Siti Khalimah mengatakan, tunggakan pembayaran klaim itu sebagian besar disebabkan karena alasan kelengkapan dokumen yang tidak memadai dari rumah sakit terkait.

Istilahnya, penundaan pembayaran klaim itu mayoritas karena masalah dispute yang dilaporkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

“Sebagian besar dispute itu sebenarnya bisa dibayarkan kalau dilihat, dispute ini misalnya pasien konfirmasi, tapi tidak ada dokumen hasil laboratoriumnya. Jadi kelengkapan dokumen itu kadang tidak cocok dengan klaimnya,” kata Siti melalui sambungan telepon, Selasa (4/1/2022).

Kendati demikian, Siti mengatakan, realisasi pembayaran klaim kepada rumah sakit rujukan Covid-19 itu relatif sudah berjalan optimal.

Berdasarkan data yang diterima Bisnis, posisi klaim sampai tanggal 24 Desember mencapai Rp85,67 triliun dari 1,61 juta kasus. Dari jumlah klaim itu, Kemenkes sudah membayar sebesar Rp62,67 triliun atau rampung melunasi 1,14 juta kasus hingga akhir 2021.

Sementara itu, terdapat 149.739 klaim dengan nilai mencapai Rp5,49 triliun pada 2020 tidak bisa dibayarkan. Alasannya, 70 persen klaim yang ditarik hingga 2021 dikategorikan dispute, dan 30 persen lainnya kedaluwarsa.

“Kedaluwarsa itu rumah sakit diberi tenggat 14 hari untuk mengumpulkan dokumen, kadang ada rumah sakit yang terlambat, dia itu tidak bisa dibayar dan disebut kedaluwarsa,” kata dia.

Ihwal sisa tagihan yang belum lunas pada tahun anggaran 2021, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memerintahkan jajarannya untuk segera membayar klaim rumah sakit yang layak hingga triwulan pertama tahun ini.

Harapannya, pembayaran klaim itu dapat membantu kinerja rumah sakit di tengah potensi meningkatnya kasus Covid-19 akibat varian Omicron pada awal tahun ini.

“Kemarin Pak Menkes minta triwulan satu ini sudah mulai dikerjakan, mudah-mudahan tidak terjadi [lonjakan kasus],” tuturnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Konten Premium Masuk / Daftar

Adblock test (Why?)


Mitra Keluarga (MIKA) Tetap Tampung Pasien Covid-19 Meski Kemenkes Masih Menunggak Klaim RS - Bisnis.com
Read More

Arsenal Masih Ngebet untuk Datangkan Wijnaldum dari PSG - Bola.net

Bola.net - Klub Liga Inggris Arsenal dikabarkan masih berusaha untuk bisa mendatangkan Georginio Wijnaldum dari PSG.

Wijnaldum gabung dengan PSG pada musim panas 2021 lalu. Ia diangkut secara gratis karena kontraknya di Liverpool berakhir.

Namun di PSG, Wijnaldum kesulitan beradaptasi. Ia tak selalu mendapat jaminan bermain sebagai pemain inti.

Situasi ini kemudian memunculkan spekulasi terkait masa depan pemain asal Belanda tersebut. Ada kabar bahwa ia bisa saja cabut dari PSG pada musim dingin 2022 ini.

Adblock test (Why?)


Arsenal Masih Ngebet untuk Datangkan Wijnaldum dari PSG - Bola.net
Read More

Kemenkes Masih Nunggak Klaim RS, Layanan Pasien Covid-19 di Hermina (HEAL) Tidak Terganggu - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten rumah sakit PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) memastikan keterlambatan pembayaran klaim rumah sakit yang dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tidak berdampak signifikan pada pelayanan kesehatan pasien.

Seperti diketahui, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan terdapat 468.611 kasus klaim perawatan pasien Covid-19 di rumah sakit yang belum rampung dibayarkan sepanjang 2021.

Adapun, nilai klaim perawatan pasien Covid-19 itu mencapai Rp22,99 triliun yang mayoritas berasal dari rumah sakit swasta dan milik pemerintah daerah.

“Klaim dari Kemenkes masih ada yang belum terbayar, tapi tidak berdampak signifikan bagi pelayanan pada pasien,” kata Presiden Direktur HEAL Hasmoro melalui pesan WhatsApp, Selasa (4/1/2022).

Hasmoro mengatakan, perseroan bakal tetap mempersiapkan kapasitas perawatan pasien Covid-19 seperti gelombang pandemi kedua di pertengahan tahun lalu untuk menghadapi potensi lonjakan kasus akibat varian Omicron beberapa waktu terakhir.

“Kesiapan sama dengan pelayanan seperti pandemi gelomang kedua yang lalu,” tuturnya.

HEAL mengelola 41 rumah sakit dengan ketersediaan 5.277 tempat tidur hingga Maret 2021. Memulai sebagai rumah sakit kehamilan dengan spesialisasi ibu dan anak dan mulai mengadopsi layanan Jaminan Kesehatan Negara (JKN), serta dapat 100 persen dilakukan di seluruh jaringan rumah sakitnya.

Guna mengantisipasi lonjakan pasien Covid-19, HEAL melakukan sejumlah langkah mulai dari penambahan tempat tidur hingga berpartisipasi dalam Vaksinasi Gotong Royong.

Emiten bersandi HEAL itu juga menambah kapasitas tempat tidur khusus Covid-19 yang sejak Juni 2021 disiapkan 1.500 tempat tidur, ditambah dengan 800 tempat tidur menjadi 2.300 tempat tidur.

Seperti diberitakan sebelumnya, Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes Siti Khalimah mengatakan, tunggakan pembayaran klaim itu sebagian besar disebabkan karena alasan kelengkapan dokumen yang tidak memadai dari rumah sakit terkait.

Istilahnya, penundaan pembayaran klaim itu mayoritas karena masalah dispute yang dilaporkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

“Sebagian besar dispute itu sebenarnya bisa dibayarkan kalau dilihat, dispute ini misalnya pasien konfirmasi, tapi tidak ada dokumen hasil laboratoriumnya. Jadi kelengkapan dokumen itu kadang tidak cocok dengan klaimnya,” kata Siti melalui sambungan telepon, Selasa (4/1/2022).

Kendati demikian, Siti mengatakan, realisasi pembayaran klaim kepada rumah sakit rujukan Covid-19 itu relatif sudah berjalan optimal.

Berdasarkan data yang diterima Bisnis, posisi klaim sampai tanggal 24 Desember mencapai Rp85,67 triliun dari 1,61 juta kasus. Dari jumlah klaim itu, Kemenkes sudah membayar sebesar Rp62,67 triliun atau rampung melunasi 1,14 juta kasus hingga akhir 2021.

Sementara itu, terdapat 149.739 klaim dengan nilai mencapai Rp5,49 triliun pada 2020 tidak bisa dibayarkan. Alasannya, 70 persen klaim yang ditarik hingga 2021 dikategorikan dispute, dan 30 persen lainnya kedaluwarsa.

“Kedaluwarsa itu rumah sakit diberi tenggat 14 hari untuk mengumpulkan dokumen, kadang ada rumah sakit yang terlambat, dia itu tidak bisa dibayar dan disebut kedaluwarsa,” kata dia.

Ihwal sisa tagihan yang belum lunas pada tahun anggaran 2021, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memerintahkan jajarannya untuk segera membayar klaim rumah sakit yang layak hingga triwulan pertama tahun ini.

Harapannya, pembayaran klaim itu dapat membantu kinerja rumah sakit di tengah potensi meningkatnya kasus Covid-19 akibat varian Omicron pada awal tahun ini.

“Kemarin Pak Menkes minta triwulan satu ini sudah mulai dikerjakan, mudah-mudahan tidak terjadi [lonjakan kasus],” tuturnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Konten Premium Masuk / Daftar

Adblock test (Why?)


Kemenkes Masih Nunggak Klaim RS, Layanan Pasien Covid-19 di Hermina (HEAL) Tidak Terganggu - Bisnis.com
Read More

Likuiditas Masih tinggi, Jumlah Penawaran pada Lelang SUN Selasa (4/1) Cukup Tinggi - Investasi Kontan

Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah vakum dua bulan, pemerintah kembali mengadakan lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa (4/1). Sebagai lelang perdana di tahun ini, jumlah penawaran yang masuk cukup solid, yakni Rp 77,58 triliun. 

Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kemenkeu Deni Ridwan menyebut solidnya appetite investor pada lelang kali ini tidak terlepas dari kinerja APBN Tahun 2021 yang positif terutama dari sisi penerimaan. Hal ini menjadi sinyal kuat optimisme berlanjutnya pemulihan ekonomi di tahun 2022.

Sementara Head of Fixed Income Bank Negara Indonesia (BNI) Fayadri menyebut hasil lelang ini sudah sangat bagus. Pasalnya, angka tersebut jauh lebih besar dari total penawaran yang masuk pada pelaksanaan lelang SBN terakhir di tahun 2021. 

Adapun pada lelang SBN 26 Oktober 2021 lalu, total penawaran yang masuk hanya Rp 69,535 triliun.

Baca Juga: Ramai Peminat, Penawaran Masuk pada Lelang SUN Perdana 2022 Capai Rp 77,58 Triliun

“Hal ini terutama disebabkan oleh masih tingginya kondisi likuiditas investor. Tingginya likuiditas investor ini diperkirakan karena sudah dua bulan pemerintah tidak mengadakan lelang di pasar primer,” jelas Fayadri kepada Kontan.co.id, Selasa (4/1).

Pada lelang kali, pemerintah memutuskan untuk menyerap sebanyak Rp 25 triliun dari jumlah penawaran yang masuk atau sesuai dengan target indikatif. 

Fayadri mengatakan, periode awal tahun bisa jadi momentum yang tepat bagi pemerintah untuk melakukan strategi front loading. Menurutnya, strategi tersebut biasanya diambil apabila ada potensi kenaikan suku bunga serta masih adanya resiko ketidakpastian global. 

Sejalan dengan pemulihan perekonomian pasca pandemi, banyak pihak yang memperkirakan tahun ini akan terjadi pembalikan arah suku bunga sehingga penerapan strategi front loading bisa jadi salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan oleh pemerintah. 

Apalagi, bagusnya kondisi likuiditas investor saat ini dapat menjadi faktor pendukung untuk menjalankan strategi ini.

Adapun, investor asing terpantau belum banyak berpartisipasi pada lelang kali. Tercatat, jumlah penawaran yang masuk dari investor asing hanya sebesar Rp 9,9 triliun atau 12,77% dari total  bids.

Sementara dari sisi seri yang diburu, FR0093 rupanya jadi incaran para peserta lelang. Seri ini mendapat jumlah penawaran sebesar Rp 26,82 triliun. Fayadari menyebut, faktor FR0093 yang merupakan seri baru serta seri benchmark untuk tahun ini menjadi alasan tingginya minat peserta.

Baca Juga: Lelang SUN Perdana Tahun Ini Diprediksi Bakal Ramai Peminat

“Jika dilihat dari sisi yield, lelang hari ini sudah kompetitif dan mencerminkan kondisi pasar. Pasca pengumuman hasil lelang, beberapa seri obligasi yang tadi dilelang masih dicari oleh investor di pasar sekunder,” imbuh Fayadri.

Adapun, yield rata-rata tertimbang pada lelang SUN hari ini hari ini secara umum tercatat lebih rendah apabila dibandingkan dengan level pasar pada penutupan hari sebelumnya. Penurunan terbesar terdapat pada tenor 5 tahun yang mencapai 4 bps.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Adblock test (Why?)


Likuiditas Masih tinggi, Jumlah Penawaran pada Lelang SUN Selasa (4/1) Cukup Tinggi - Investasi Kontan
Read More

Masih Ekspansif, PMI Manufaktur Indonesia Ungguli Thailand dan China - Industri Kontan

Reporter: Vina Elvira | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aktivitas sektor industri manufaktur di Tanah Air masih cukup menggeliat hingga tutup tahun 2021. Hal ini sejalan dengan meningkatnya produksi dan permintaan di pasar ekspor.

Dalam keterangan resminya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut bahwa capaian Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada bulan Desember tercatat sebesar 53,5 atau masih di atas level ekspansif (50), berdasarkan hasil survei IHS Markit.

“Kami mengapresiasi kepercayaan para pelaku industri manufaktur yang masih tinggi. Bahkan, mereka tetap optimistis pada tahun ini seiring dengan tekad pemerintah dalam menjalankan berbagai kebijakan strategis untuk meciptakan iklim usaha yang kondusif,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, dalam keterangan resminya, kemarin. 

Agus menyampaikan, pihaknya tetap fokus memacu hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri. Upaya ini dinilai telah memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional, di antaranya pembukaan lapangan kerja dan penerimaan devisa dari ekspor, yang berujung pada kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga: Hilirisasi Industri Akan Terus Dipacu Guna Meningkatkan Nilai Tambah

“Sesuai yang disampaikan Presiden Joko Widodo, ekonomi nasional mulai pulih dan kuat kembali. Hal ini ditandai dengan neraca dagang kita yang surplus US$ 34,4 miliar, dan kondisi surplus tersebut dapat dipertahankan selama 19 bulan. Ekspor kita juga naik secara y-on-y hingga 49,7%,” terangnya.

Selama ini, lanjutnya, sektor industri manufaktur konsisten memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian nilai ekspor nasional. Pada Januari-November 2021, nilai ekspor dari industri manufaktur mencapai US$ 160 miliar atau berkontribusi sebesar 76,51% dari total ekspor nasional. Angka ini telah melampaui capaian ekspor manufaktur sepanjang tahun 2020 sebesar Rp 131 miliar, dan bahkan lebih tinggi dari capaian ekspor tahun 2019.

Jika dibandingkan dengan Januari-November 2020 (c-to-c), kinerja ekspor industri manufaktur pada Januari-November 2021 meningkat sebesar 35,36%. Kinerja ekspor sektor manufaktur ini sekaligus mempertahankan surplus neraca perdagangan yang dicetak sejak bulan Mei 2020.

“Kenapa ekspor kita bisa naik setinggi itu? Salah satunya karena kita berani untuk menghentikan ekspor raw material, seperti bahan mentah dari minerba, yaitu nikel. Dari awalnya, ekspor sekitar US$ 1 miliar - US$ 2 miliar, kini sudah hampir mencapai US$ 21 miliar. Oleh sebab itu, Jokowi telah memberikan arahan untuk melanjutkan setop ekspor bauksit, tembaga, timah, dan lainnya, karena hilirisasi menjadi kunci dalam kenaikan ekspor kita,” jelas Agus. 

Sementara itu, impor untuk bahan baku dan bahan penolong juga naik sebesar 52,6%. Bahan baku dan bahan penolong ini sebagai kebutuhan untuk diolah oleh industri di dalam negeri sehingga dapat menghasilkan produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Baca Juga: ARPI: End Users Menunda Instalasi, Industri Rantai Pendingin Naik Tipis 9% di 2021

Seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian nasional, Kemenperin menargetkan pertumbuhan industri manufaktur sebesar 4,5%-5%pada tahun 2022.

Menanggapi hasil PMI Manufaktur Indonesia terkini, Jingyi Pan selaku Economics Associate Director IHS Markit mengatakan, keseluruhan sentimen bertahan sangat positif, dengan tingkat kepercayaan diri bisnis di atas rata-rata jangka panjang menunjukkan bahwa manufaktur Indonesia masih optimistis terhadap pertumbuhan produksi berkelanjutan selama periode tahun 2022.

PMI Manufaktur Indonesia pada Desember 2021 melampaui PMI Manufaktur negara-negara ASEAN seperti Thailand (50,6), Filipina (51,8), Vietnam (52,2), dan Malaysia (52,8). Bahkan juga mampu unggul terhadap PMI Manufaktur Korea Selatan (51,9), Rusia (51,6), dan China (49,9).

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Adblock test (Why?)


Masih Ekspansif, PMI Manufaktur Indonesia Ungguli Thailand dan China - Industri Kontan
Read More

Industri Manufaktur Masih Akan Menggeliat, Saham-Saham Ini Bisa Dilirik - Investasi Kontan

Reporter: Kenia Intan | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aktivitas manufaktur di Indonesia masih ekspansif di bulan Desember 2021. IHS Markit mencatat, Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia bulan Desember 2021 berada di posisi 53,5. Pada bulan November 2021, IHS Markit berada di posisi yang lebih tinggi, yakni 53,9. 

Kendati mencetak penurunan, indeks manufaktur masih berada di atas 50 poin. Artinya, aktivitas manufaktur di Indonesia masih ekspansif. 

Head of Investmen Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana berpendapat, capaian PMI Manufaktur Indonesia di bulan Desember itu masih bisa dipandang positif. Apalagi, apabila melihat kembali di akhir tahun 2021 ini, banyak ketidakpastian menyelimuti. 

Di antaranya, kabar mengenai rencana pemerintah menerapkan PPKM level III secara serentak di berbagai wilayah di Indonesia ketika momentum Natal dan Tahun Baru. Selain itu, mulai muncul kekhawatiran penyebaran varian baru Covid-19, Omicron.  

"Sebetulnya ekspektasi dari investor itu justru akan turun di bawah 53 awalnya. Jadi ketika angka yang ke luar 53,5 ini sesuatu yang positif," ungkap Wawan kepada Kontan.co.id, Selasa (4/1). 

Baca Juga: Ditutup naik 0,45%, Penguatan IHSG Pada Awal Tahun Masih Akan Berlanjut

Sementara itu, Analis Pilarmas Investindo Sekurtias Okie Ardiastama berpendapat, melorotnya indeks manufaktur Indonesia diperberat oleh tingginya bahan baku dan biaya energi sehingga mendorong naiknya biaya output. 

Di sisi lain, konsumsi  masyarakat pada bulan Desember belum menunjukkan perbaikan.

Hal tersebut juga dipandang sebagai tantangan bagi industri dalam melakukan ekspansi yang lebih agresif di kuartal I-2022. Padahal secara historis, permintaan dan produksi dari domestik sudah menunjukkan perbaikan selama empat bulan secara berturut-turut. 

Oleh karena itu, penanganan pandemi serta pemulihan ekonomi di kuartal I 2022 menjadi kunci PMI Manufaktur dalam melanjutkan ekspansinya. 

"Kami melihat di kuartal I 2022 ini PMI Manufaktur masih berada di level ekspansif, namun diproyeksikan lebih rendah dibandingkan bulan Desember 2021," ujar Okie kepada Kontan.co.id, Selasa (4/1). 

Lebih lanjut, hilirisasi dari industri dalam negeri dinilai dapat mendorong kinerja manufaktur dan ekspor dalam beberapa bulan ke depan. Ini seiring naiknya permintaan asing dan juga potensi kenaikan harga komoditas pada kuartal I-2022. 

Sementara itu, Wawan memproyeksikan aktivitas manufaktur masih akan bertahan di level ekspansif atau di atas posisi 50. Ini tidak terlepas dari kondisi ekonomi yang diprediksi terus membaik. Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2022 bisa mencapai 4,7% hingga 5,5%. 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.




Adblock test (Why?)


Industri Manufaktur Masih Akan Menggeliat, Saham-Saham Ini Bisa Dilirik - Investasi Kontan
Read More

BI: Inflasi Masih Tetap Rendah - Republika Online

Inflasi yang rendah pada 2021 itu dipengaruhi permintaan domestik yang belum kuat. 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada 2021 tetap rendah dan berada di bawah kisaran sasaran 2-4 persen. Inflasi IHK 2021 tercatat1,87 persen (yoy), meningkat dibandingkan inflasi IHK 2020 sebesar 1,68 persen (yoy).

Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono menyampaikan, inflasi yang rendah pada 2021 itu dipengaruhi permintaan domestik yang belum kuat. Dampak pandemi Covid-19 masih terasa namun pasokan tetap memadai, dan sinergi kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah dalam menjaga kestabilan harga.

"Ke depan, Bank Indonesia tetap konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, guna menjaga inflasi sesuai kisaran targetnya 2-4 persen pada 2022," kata Erwin dalam keterangan pers, Selasa (4/1).

Inflasi IHK Desember 2021 tercatat sebesar 0,57 persen (mtm). Inflasi tersebut meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 0,37 persen (mtm), dan lebih tinggi dari rerata inflasi Desember lima tahun sebelumnya sebesar 0,51 persen (mtm).

Meningkatnya tekanan inflasi IHK di akhir tahun didorong oleh kelompok inflasi volatile food dan administered prices. Inflasi inti tercatat 0,16 persen (mtm), relatif stabil dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,17 persen (mtm).

Inflasi kelompok volatile food tercatat sebesar 2,32 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan lalu sebesar 1,19 persen (mtm), sejalan pola musiman akhir tahun. Kelompok administered prices mencatat inflasi 0,45 persen (mtm), meningkat dari inflasi bulan sebelumnya 0,37 persen (mtm) seiring peningkatan permintaan angkutan udara pada Natal dan Tahun Baru.

Perkembangan Covid-19 memengaruhi inflasi pada tahun 2021. Inflasi 2021 yang rendah dipengaruhi inflasi inti yang tercatat sebesar 1,56 persen (yoy), sedikit menurun dibandingkan inflasi inti tahun sebelumnya.

Rendahnya inflasi inti terutama dipengaruhi oleh belum kuatnya permintaan domestik. Seiring dengan kebijakan pembatasan mobilitas yang harus ditempuh untuk mencegah penyebaran Covid-19 di tengah pengaruh tekanan harga global ke domestik yang minimal.

"Di sisi lain, kebijakan Bank Indonesia tetap konsisten menjaga ekspektasi inflasi terjangkar sesuai sasaran dan stabilitas nilai tukar sesuai dengan fundamentalnya," kata Erwin.

Inflasi volatile food terkendali sebesar 3,20 persen (yoy), didukung ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi bahan pangan yang tetap terjaga. Serta, sinergi kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah untuk menjaga stabilitas harga. Sementara itu, inflasi administered prices meningkat dari tahun lalu menjadi sebesar 1,79 persen (yoy), sejalan dengan peningkatan mobilitas masyarakat pascapelonggaran kebijakan pembatasan mobilitas.

 

Adblock test (Why?)


BI: Inflasi Masih Tetap Rendah - Republika Online
Read More

Problema Rangkap Dilema! Andis DOS Setuju Nitro Cuman Dikelas FFA, yang Lain Gimana Nih ? - Otoinfo.id

Otoinfo- Pada musim balap dragbike 2023, Pro dan Kontra penggunaan bahan bakar ‘Nitro’ begitu santer dibicarakan. Beberapa mekanik ju...